…..coz it’ll make you lethargic.
Believe me.. Eeeeewwwww…. >_<

Darn it Sylv, stop browsing all around the net like that! Juz start blog something important rather than browsing without any purpose which will increase your telephone bill!

Blog something important? Hmmm.. I seldom read the newspapers nowadays. And even if I read it, there are only news that I think ain’t appropriate to be put in this blog. Like, the hot mud in East Java? I know it’s a pathetic situation but, hello? Hot mud?
Dan seperti biasa, penanggulangan yang lambat dan tidak tepat sasaran. Hmmm. Typical, typical.

Now, how about this one! Kelulusan UN sangat memuaskan! Hmmm…
Ya ya ya, memuaskan karena ada yang membolehkan contek-contekan?
Karena ada yang menyebarluaskan kunci jawaban lewat SMS?
Hmmmmmm…..

Or read this one. Cerita sedih (ato goblok?) dari seorang siswa SMA yang udah dapet PMDK (apa SPMB sih? Ato apa sih? Whatever) dari universitas negeri tapi ternyata ga lulus karena nilai matematikanya tidak memenuhi standar kelulusan (4.5).
Lah udah sampe bisa diterima di universitas negeri gitu masa matematikanya ga bisa lulus sih??? Yew. Puh-leeeeezzzz.. Where have you been?? Apa karena dah diterima jadi ga belajar matematikA??
Aeh, kayak nilai matematika saya bagus aja. Ah, tapi kan saya lulus!

Nah nah nah. Ini bener nih kayaknya. Hasil kerja keras selama 3 tahun bisa runtuh gara-gara ujian 2 jam saja. Hehehe.

Kenapa ya kelulusan begitu malah disamaratakan??
Tadi saya baru aja kepikiran metode yang (mungkin) akan lebih efektif.
Jadi nanti, ga ada lulus/ga lulus. Yang ada, apakah keterima ato ngga.
Jadi begini saya mikirnya. Masing-masing universitas punya standar sendiri dalam menerima mahasiswa.
Mis. Univ A requires rata2 ujian 7. Terus untuk masing2 jurusan berbeda requirementsnya. Misalnya, untuk jurusan Komputer, nilai Mat harus 8. Atau untuk jurusan Komunikasi nilai Bahasa Indonesia/Inggris harus 8.
Univ B requires rata2 ujian cukup 6 aja. Minimal nilai mat harus 5.
And so on… Universitas bisa menentukan sendiri standar mereka. Nah, dengan gini kan, para murid juga bisa menyiapkan dengan sebaik2nya nilai-nilai yang dibutuhkan. Bukannya malah nanti harap harap cemas menanti nilai UAN apakah lulus ato ngga. Masalahnya apakah nilai mereka nanti mencukupi kriteria si universitas atau tidak.
Jadi nanti ga ada tuh term “Lulus”. Yang ada hanyalah “Tamat SMA”.
Mungkin aja dikasih predikat-predikat kayak lulus kuliah gitu. “Tamat SMA cum laude”, anyone? “Tamat SMA (Hons)”. “Tamat SMA summa cum laude”.
Oh, okay, stop it.
Jadi nanti di kriteria penerimaan mahasiswa baru, persyaratannya bukan “Lulus SMA tahun blablabla” tapi “Tamat SMA dengan nilai ujian rata-rata blablabla”.
Terus didefinisiin lebih jelas lagi.
(misalnya)
Fakultas Teknik
Nilai ujian Matematika minimal 6.50, nilai ujian Fisika minimal 6.00

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Nilai ujian Bahasa Indonesia minimal 7.00, nilai ujian Bahasa Inggris minimal 6.50

Fakultas Ekonomi
Nilai ujian Ekonomi minimal 7.00, nilai ujian Bahasa Inggris minimal 6.00

and so on…
Emang sih bakal lebih repot. Dan menghabiskan lebih banyak biaya cetak brosur karena brosurnya tambah panjang. Hehehe. Tapi bukankah lebih efektif daripada nerima anak “pintar” yang ujung-ujungnya ga lulus ujian?? (siapa ya namanya? Bayu dari SMA 71 kah? Is there any chance that he’s looking at this blog?? Huahauhauhau)

tapi metode ini bakal lebih berjalan lancar kalo di Indonesia udah ga ada pembagian jurusan. Lebih kepada pemilihan mata pelajaran secara mandiri. (kecuali mata pelajaran wajib kayak PPKn, Sejarah, Bahasa Indonesia, dll.)
Dan juga berhentilah mengelompokkan pelajaran seenak jidat. Gw lebih suka pelajaran di Amerika ato tempat lain yang dipisah-pisah, terutama mat-nya. Kalkulus sendiri, geometri sendiri, aritmatika sendiri, aljabar sendiri. Jadi siswa bisa milih yang lebih cocok untuk aptitude dia.
Nah tapi untuk ini juga harus didukung konselor siswa yang kompeten. Konselornya harus lulusan Psikologi loh yaaahh.

Tapi kayaknya kalo ngeliat Indonesia sekarang, dengan sistem pendidikan yang udah tertanam dari dulu, kayaknya masih bakalan sangat susah buat menerapkan metode saya ini.

Tapi.. Ga ada salahnya berharap dunk?

Comments are waited.

Ciao guys..

∫yLv (huehueheu. Like I did in my old blog.. That integral thingy has become so cute now! =D

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.


0 Responses to “Don’t sleep too much on holiday…”

  1. No Comments

Leave a Reply





Subscribe

Subscribe to my RSS Feeds