J E N U H.
Ini kata yang cocok banget menggambarkan mood saya sekarang.
Another word : M U A K.
Ya, itu yang saya rasakan.
Ah, masa SMA tinggal sebulan lagi (kurang malahan), dan rasanya lamaaa sekali. Eh ngga ding. Kadang-kadang rasanya juga cepat. Kok tanpa terasa sudah mau ujian sekolah (tanggal 1-3 Mei) dan juga ujian nasional (16-18 Mei).
Duh. Saya jenuh banget ngeliatin soal-soal latian ujian. Saya muak musti bercapek-capek dan muter-muterin otak ampe kebelit buat menyelesaikannya.
Saya jenuh belajar berbagai macam pelajaran yang tidak akan berguna bagi saya. (Contoh : fisika) Saya muak ngafalin rumus-rumus yang ajegile banyak bener. (just fyi, rumus fisika yang harus saya afalin ada 8 lembar folio)
Saya jenuh mikirin mau kuliah di mana (dan ambil apa). Saya muak ditanyain mau kuliah di mana (dan ambil apa).
Lord please stop this!!
Kata mantan pacar saya, kalo lagi pada masa “klimaks SMA” (seperti yang saya hadapi sekarang), enaknya kalo lagi ada pacar yang setia nemenin.
Halah, mana ada? Hmph.
Tapi ngga berarti saya jenuh jadi jomblo kok. In fact, saya mulai terbiasa.
***
Saya nangis melulu.
Lagi.
Dan saya merasa lemah sekali.
Bukannya saya yang biasanya selalu siap siaga waktu ada orang nangis meraung-raung dan meracau “Kenapa sih Vi.. Kenapa sih Vi.. Kenapa sih…. Gua ga terima.. Kenapa begini sih Vi..Kenapa…” ?
Bukannya saya yang biasanya selalu punya kata-kata maut buat menenangkan orang?
Tapi nyatanya saya ga bisa melakukan itu untuk diri saya sendiri.
Dan apa ada yang bisa? Saya tau sendiri kalo saya adalah orang yang sangaaaaat keras kepala dan sangaaaaat sugestif.
Dan nangis terus-terusan kayak gini dan dengan alasan yang mostly selalu sama bikin saya merasa jadi kayak anak kecil yang nangis waktu mainan idamannya tidak dibelikan oleh orangtuanya.
Dan tiap kali mau nangis pasti saya mati-matian berusaha buat nahan. Kata suara di dalam diri saya, “Ngga Vi, lo musti kuat!”
Kuatkah saya? KuatkaH?
Saya takut bahwa saya lagi menghadapi suatu kenyataan.
Kenyataan bahwa saya harus merelakan mimpi saya hancur berkeping-keping.
Biasanya nasehat yang saya kasih buat orang-orang yang menghadapi masalah kayak gini adalah : “Kalo lo udah bermimpi, lo musti sadar bahwa mimpi itu punya kemungkinan untuk ngga terwujud. Dan lo harus menjalankan kenyataan, bukannya mimpinya jalan terus”.
Tapi nyatanya saya ngga siap untuk menghadapi hancurnya mimpi saya, kalau beneran terjadi.
Kemaren nyokap baru bilang lagi bahwa saya jangan kuliah di luar Jakarta. Alasannya? Masih alasan keluarga. Masih dan akan selalu menjadi alasan keluarga. Pasti.
Ah, atau semua alasan ini cuma bikin-bikinan? Tell me Mom. Kenapa banyak banget alasan yang Mama suguhin buat Vivi? Dan Mama ga konsisten sama semua itu.
Mama pernah bilang, ga cukup biaya.
Tapi beberapa bulan kemudian Mama bilang itu semua bukan masalah biaya.
Dan Vivi tau persis memang harusnya biaya bukan masalah.
Tapi anyway, Mom, you really succeeded to make me really think that we don’t have enough fund for my study. Great work.
Mama pernah bilang, Vivi belon mandiri dan ga bisa ngelakuin apa-apa sendiri.
Very funny and contradictive, because it’s you yourself that teaches me to be independent. Mama bilang, “Jangan ngandelin orang lain. Ga ada orang yang bisa lebih kita andelin daripada diri sendiri.”
Once again, you succeeded, Mom. Vivi bisa melakukan banyak hal sendiri yang ngga biasanya anak seumur Vivi bisa.
And, don’t you realize it Mom, that you had given birth for a fast-learner? Maybe it’s hereditary, anyway.
Di lain waktu, masalah keluarga. Bukan keluarga inti. Mama bilang, Vivi ga boleh jauh-jauh dari mereka karena mereka butuh Vivi. My question is, apa mereka, yang notabene terhubung sama Mama cuma karena pernikahan Mama sama Papa, lebih penting daripada Vivi, anak Mama sendiri yang Mama kandung 9 bulan dan dibesarkan sampai sekarang? Jadi kebahagiaan mereka lebih penting?
Dan yang sekarang, masalah keluarga inti kita sendiri.
Dan entah kenapa Vivi susah percaya sama alasan Mama yang ini.
It seems like you have run out of reasons to make me stay, then you made up this reason, that directly attacked my weakness.
Atau cuma Vivi yang terlalu curigaan?
Tell me Mom.
Mama ngga pernah ngajarin Vivi buat bermimpi, tapi Vivi udah “jagonya” bermimpi dari jaman dulu, sampe2 Vivi takut jadi gila gara-gara keseringan daydreaming.
…………………………………..
Titik ini bukan tanda habis.
Ini adalah ellipsis.
Tanda bahwa ada sesuatu yang belum selesai.
Back to the jenuh and muak section.
Saya jenuh bolak-balikin brosur universitas. Saya muak ditelepon terus sama agen pendidikan.
Saya jenuh ngerjain berbagai tes untuk mengetahui my true potential (yang percaya ga percaya biasanya selalu menyertakan bakat matematika di hasilnya). Saya muak ngeliat orang yang merasa lebih baik dari saya. (dan ya, saya benci kalau melihat ada orang yang lebih baik dari saya. Why hide? It’s true)
Saya jenuh tinggal di rumah ini. Rumah dengan ventilasi super bagus sampe2 semua suara bisa terdengar seperti layaknya sumber suara ada tepat di samping kuping. Saya muak tinggal di Jakarta dengan make-up kemacetan yang tambah tebal saja.
Saya jenuh berhadapan dengan orang munafik dengan senyum dan tingkah laku palsunya yang menjijikkan. (yes, it’s that slut) Saya muak terus-terusan berpikir tentang masa depan saya yang tampaknya cuma dibangun dari sekian banyak mimpi yang bergelimpangan tanpa arah tanpa kepastian yang menjanjikan secercah cahaya yang seakan semu.. (bingung? ya intinya saya juga bingung)
Saya jenuh terus-terusan mengkritik pendidikan Indonesia (dan hal-hal lainnya) yang perubahannya selalu dimulai dengan kata “Kami akan berubah ke arah yang lebih baik” dan ditutup dengan kata “Insya Allah” segera setelah dimulai. Saya muak dengan keadaan stagnan Indonesia.
Saya jenuh berhadapan dengan masalah yang itu-itu saja yang rasanya tidak ada habis-habisnya. Saya muak berhadapan dengan orang2 yang bersikap layaknya mereka tahu semua masalah dan punya penyelesaian yang tepat padahal mereka adalah orang2 yang seumur hidupnya tidak pernah kenal susah.
Cuih!!
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.


ah sama dunks.. saya juga sudah sangat jenuh dan muak dengan pelajaran.. apalagi nanti setelah uas, gw tiap hr sampe uan bakal cuma bljr mat-bind-bing, dan itu sangat menyebalkan dan membosankan.. saya juga cape, tapi tinggal bbrp hai lagi.. berjuang! hehe
eniwei, saya mo masuk matematika itb kl diterima hohoho
ucrit>matematika? haa? say what?? matematika?? haaa?? haaaaaaaaaaa?????