Archive for April, 2006

1st post full english

I wanna write in English. Hehe. But I’m not sure whether I’m gonna make this blog in full English or not. Okay, I know that my header, sidebar, biodata, etc. are all in English. But not my posts rite? So, I’ll put a test page, although there were already several posts using full english.
Why? Because I wanna be a part of an international world, and I want my thoughts to be spread all around the world. And the international language a.k.a English will surely help me to do so. Ah, what a reason.
The simple reason is I wanna make friends from all around the world. It’s been my long time dream. I used to think about making penpals all around the world when I was a little girl but then, as the time goes by and the technology grows well, I’m thinking, why writing a goddamn long letters filled with unclear scribblings (yes, my handwriting is as bad as that) when you can simply type an e-mail? Or simply type a simple “hi” in people’s shoutbox. Hehe.
So my Indonesian pals, tell me how you think. And my abroad friends (who are still Indonesian, though), tell me how you think too. I think I’m gonna put a poll on the sidebar immediately.

Yes, to be honest, I’m still a bit reluctant to write this blog in English. It’s not that I have difficulties writing in English. Not a bit, actually. Except for the fokkin grammar of English. (Gee I suddenly remember the times I got 5-out-of-10 marks for my English grammar. Long time ago. Such a sad time.)
Well, I’m afraid that my writing style in English won’t be as good as my writing style in Indonesian. I’m pretty satisfied and confident about my Indonesian writing style but not English. Er, will you guys the readers tell me what you think about my writing style in English? Is it still nice to be read or boring? Tell me. Oh yeah, and I’m not sure whether the readers will get confused or not.

So, talking about my daily life.. How about a broken-heart thingy?
Ah, broken-hearted again. My, my. Poor, poor Sylvia Giacinta a.k.a Sylv. (still being proud of my newly-baptized name) Anyway, does Giacinta suit my name?
I hate being broken-hearted, but still that’s what I have to go thru, rite? And it seems like I’m getting used to it. Getting used to be broken-hearted. Maybe I’m a bit masochist because I like being hurt. No no no. No fuckin way. I am not a masochist. (despite the fact I once hurt myself using my nails when I was crying so hysterically. Just once, guys. Just once.)
But actually, I’m glad about this broken heart. This time, I’m glad. Oh, is that a sign of masochism? Don’t tell me I’m crazy. Please read on first.
Actually I’ve made a beginning of something. Ah, do I need to elaborate that something? But when I began that, I kept thinking about that guy far away, and maybe deep inside hoping that he’d feel the same way.. I’m not really sure about my feeling about the guy here, coz I was kinda afraid that my feeling was still “stuck” on the guy out there.
But now, hey, I already know what his feeling is. (“his” here refers to the guy out there) And so, there will be no more hoping and waiting for me. There’s already a guy here. But well, still, I’m not really sure about his feeling…
But at least, it will free my mind from thinking about that guy out there. And will make me sure to make a really good beginning on “that” stuff.
So.. A hooray for my broken heart?

Anyone to tell me about the “ketindihan” thingy?
Well, the situation when you’re in “almost sleeping” mode (not sleeping, but not fully open-eyed), then you feel that you’re not able to move your body. It feels like you’re being sat on by “something”. (Indonesia : kyk didudukin sesuatu gituuu)
And it feels terrible. And it occurs often. And it really distracts me, and makes me feel afraid.
Maybe it’s better to be “sat on” when your eyes are closed. But in my situation, my eyes were wide open and I didn’t see anything at all but the real scene of my bedroom. Not a single thing upon my body and I felt being “sat on”!
Such a scary experience. Anyone, tell me please.
Yea, I was thinking that I just had a dream but then, it felt so real. I could (barely) shout for help, I could see the real scene of my bedroom, and my eyes were open!
Oh my, my. Someone help me please.

Ciao for now.

saya jenuh. saya muak.

J E N U H.

Ini kata yang cocok banget menggambarkan mood saya sekarang.

Another word : M U A K.

Ya, itu yang saya rasakan.

Ah, masa SMA tinggal sebulan lagi (kurang malahan), dan rasanya lamaaa sekali. Eh ngga ding. Kadang-kadang rasanya juga cepat. Kok tanpa terasa sudah mau ujian sekolah (tanggal 1-3 Mei) dan juga ujian nasional (16-18 Mei).

Duh. Saya jenuh banget ngeliatin soal-soal latian ujian. Saya muak musti bercapek-capek dan muter-muterin otak ampe kebelit buat menyelesaikannya.
Saya jenuh belajar berbagai macam pelajaran yang tidak akan berguna bagi saya. (Contoh : fisika) Saya muak ngafalin rumus-rumus yang ajegile banyak bener. (just fyi, rumus fisika yang harus saya afalin ada 8 lembar folio)
Saya jenuh mikirin mau kuliah di mana (dan ambil apa). Saya muak ditanyain mau kuliah di mana (dan ambil apa).

Lord please stop this!!

Kata mantan pacar saya, kalo lagi pada masa “klimaks SMA” (seperti yang saya hadapi sekarang), enaknya kalo lagi ada pacar yang setia nemenin.
Halah, mana ada? Hmph.
Tapi ngga berarti saya jenuh jadi jomblo kok. In fact, saya mulai terbiasa.

***

Saya nangis melulu.
Lagi.
Dan saya merasa lemah sekali.
Bukannya saya yang biasanya selalu siap siaga waktu ada orang nangis meraung-raung dan meracau “Kenapa sih Vi.. Kenapa sih Vi.. Kenapa sih…. Gua ga terima.. Kenapa begini sih Vi..Kenapa…” ?
Bukannya saya yang biasanya selalu punya kata-kata maut buat menenangkan orang?
Tapi nyatanya saya ga bisa melakukan itu untuk diri saya sendiri.
Dan apa ada yang bisa? Saya tau sendiri kalo saya adalah orang yang sangaaaaat keras kepala dan sangaaaaat sugestif.
Dan nangis terus-terusan kayak gini dan dengan alasan yang mostly selalu sama bikin saya merasa jadi kayak anak kecil yang nangis waktu mainan idamannya tidak dibelikan oleh orangtuanya.
Dan tiap kali mau nangis pasti saya mati-matian berusaha buat nahan. Kata suara di dalam diri saya, “Ngga Vi, lo musti kuat!”
Kuatkah saya? KuatkaH?

Saya takut bahwa saya lagi menghadapi suatu kenyataan.
Kenyataan bahwa saya harus merelakan mimpi saya hancur berkeping-keping.
Biasanya nasehat yang saya kasih buat orang-orang yang menghadapi masalah kayak gini adalah : “Kalo lo udah bermimpi, lo musti sadar bahwa mimpi itu punya kemungkinan untuk ngga terwujud. Dan lo harus menjalankan kenyataan, bukannya mimpinya jalan terus”.
Tapi nyatanya saya ngga siap untuk menghadapi hancurnya mimpi saya, kalau beneran terjadi.
Kemaren nyokap baru bilang lagi bahwa saya jangan kuliah di luar Jakarta. Alasannya? Masih alasan keluarga. Masih dan akan selalu menjadi alasan keluarga. Pasti.
Ah, atau semua alasan ini cuma bikin-bikinan? Tell me Mom. Kenapa banyak banget alasan yang Mama suguhin buat Vivi? Dan Mama ga konsisten sama semua itu.

Mama pernah bilang, ga cukup biaya.
Tapi beberapa bulan kemudian Mama bilang itu semua bukan masalah biaya.
Dan Vivi tau persis memang harusnya biaya bukan masalah.
Tapi anyway, Mom, you really succeeded to make me really think that we don’t have enough fund for my study. Great work.

Mama pernah bilang, Vivi belon mandiri dan ga bisa ngelakuin apa-apa sendiri.
Very funny and contradictive, because it’s you yourself that teaches me to be independent. Mama bilang, “Jangan ngandelin orang lain. Ga ada orang yang bisa lebih kita andelin daripada diri sendiri.”
Once again, you succeeded, Mom. Vivi bisa melakukan banyak hal sendiri yang ngga biasanya anak seumur Vivi bisa.
And, don’t you realize it Mom, that you had given birth for a fast-learner? Maybe it’s hereditary, anyway.

Di lain waktu, masalah keluarga. Bukan keluarga inti. Mama bilang, Vivi ga boleh jauh-jauh dari mereka karena mereka butuh Vivi. My question is, apa mereka, yang notabene terhubung sama Mama cuma karena pernikahan Mama sama Papa, lebih penting daripada Vivi, anak Mama sendiri yang Mama kandung 9 bulan dan dibesarkan sampai sekarang? Jadi kebahagiaan mereka lebih penting?

Dan yang sekarang, masalah keluarga inti kita sendiri.
Dan entah kenapa Vivi susah percaya sama alasan Mama yang ini.
It seems like you have run out of reasons to make me stay, then you made up this reason, that directly attacked my weakness.
Atau cuma Vivi yang terlalu curigaan?
Tell me Mom.

Mama ngga pernah ngajarin Vivi buat bermimpi, tapi Vivi udah “jagonya” bermimpi dari jaman dulu, sampe2 Vivi takut jadi gila gara-gara keseringan daydreaming.

…………………………………..
Titik ini bukan tanda habis.
Ini adalah ellipsis.
Tanda bahwa ada sesuatu yang belum selesai.

Back to the jenuh and muak section.

Saya jenuh bolak-balikin brosur universitas. Saya muak ditelepon terus sama agen pendidikan.

Saya jenuh ngerjain berbagai tes untuk mengetahui my true potential (yang percaya ga percaya biasanya selalu menyertakan bakat matematika di hasilnya). Saya muak ngeliat orang yang merasa lebih baik dari saya. (dan ya, saya benci kalau melihat ada orang yang lebih baik dari saya. Why hide? It’s true)

Saya jenuh tinggal di rumah ini. Rumah dengan ventilasi super bagus sampe2 semua suara bisa terdengar seperti layaknya sumber suara ada tepat di samping kuping. Saya muak tinggal di Jakarta dengan make-up kemacetan yang tambah tebal saja.

Saya jenuh berhadapan dengan orang munafik dengan senyum dan tingkah laku palsunya yang menjijikkan. (yes, it’s that slut) Saya muak terus-terusan berpikir tentang masa depan saya yang tampaknya cuma dibangun dari sekian banyak mimpi yang bergelimpangan tanpa arah tanpa kepastian yang menjanjikan secercah cahaya yang seakan semu.. (bingung? ya intinya saya juga bingung)

Saya jenuh terus-terusan mengkritik pendidikan Indonesia (dan hal-hal lainnya) yang perubahannya selalu dimulai dengan kata “Kami akan berubah ke arah yang lebih baik” dan ditutup dengan kata “Insya Allah” segera setelah dimulai. Saya muak dengan keadaan stagnan Indonesia.

Saya jenuh berhadapan dengan masalah yang itu-itu saja yang rasanya tidak ada habis-habisnya. Saya muak berhadapan dengan orang2 yang bersikap layaknya mereka tahu semua masalah dan punya penyelesaian yang tepat padahal mereka adalah orang2 yang seumur hidupnya tidak pernah kenal susah.

Cuih!!

114604914355540947

Photobucket - Video and Image Hosting

wah. counter saya sudah 1000! akhirnya.. hehehehehe.. tapi sayangnya, counternya jadi seribu karena saya lagi ngeliat blog saya sendiri bwt liat2 shoutbox dan comments sekalian ngeliatin nama baru saya di profile : Sylvia Giacinta. Hehehehe. Ada yang perhatiin ga saya ganti nama?? Bukan ganti nama sih. Cuma berhubung saya kemaren pas easter baru saja dibaptis menurut tata cara katolik, jadilah saya punya nama baru a.k.a nama baptis, Giacinta. Dan sebenernya ga cuma nama baptis loh. Saya punya nama krisma juga. Jadinya harusnya nama saya jadi Maria Giacinta Sylvia. Tapi saya pake Sylvia Giacinta ajah. Lebih ngepop dan cocok jadi nama panggung. Halah,,, manknya mau jadi penyanyi?

But back to the topic. I’m my own 1000th visitor. Gosh. THat’s a silly situation.

Anyway, saya kaget juga bahwa banyak komen regarding post saya di bawah ini yang memuat foto saya dengan …. . Halah. Males nyebutinnya .Tebak sendiri deh.Huahuahauhauahua.

Ah sudah ah segini dulu post ga penting saya. Post penting menyusul. Hehehehe.

Hasil belajar photoshop… yang gagal..


Image hosting by Photobucket
Wahahahahaha. Beginilah saudara2, hasil penggabungan foto saya sama… siapa hayooooo? huahauahuahauhuahuahua.. Mirip gaaa?

Iya iya, fotonya beda tinggi, terus muka si cowok aneh itu kegedean, keputihan lagi. Jangan protes yaaa.. Saya kan baru belajar..

Pake ditutorial segala lho! Trus diomelin pula.. Huahuahauhauahuahua…

Oh MGI PHotosuite.. Ke mana dirimuuuu? Siapa sih yang pinjem CD program gw?? BAlikin dooonkkk!!!

Fotonya lucu ya.. *winks*

114578947827281210

Hai kawan2, ingat tak saya pernah bingung-bingung nyari topik buat ujian praktek BI saya (wicara)?
Tadinya sih mau jadi reporter, tapi dua hari sebelonnya, muncullah ide brilian di kepala saya.
Jadi presenter.
Tapi bukan presenter biasa lho. Mana ada acara ngobrol2 cuma 5 menit. (waktu maksimal ujian cuma 5 menit)
Saya jadi presenter kuis singkat. Itu lho, yang biasanya diselingin di antara program 1 dengan program lainnya. Ini loh skrip saya..

Yak selamat siang para pemirsa, tentu Anda senang kembali berjumpa dengan saya, Sylvia, dalam acara kuis singkat favorit Anda : ………………………………
Dalam kuis 5 menit ini, Anda berpeluang mendapatkan uang sebesar Rp 250.000,00 dan juga kesempatan untuk mendapatkan grand prize : sebuah ponsel Nokia N90!
Kuis ini akan mengetes pengetahuan umum Anda, jadi siapkan ensiklopedi Anda yang paling tebal sekarang juga dan langsung telepon ke 0800 0000000
Sekali lagi, telepon ke 08000000000
Ya pokoknya, 08 0 sembilan kali
Yak baik, sekarang kita angkat teleponnya, siapakah yang beruntung?

>Halo
>Halo
>Halo juga.. Siapa ini?
>…………………(nama)ßterserah deh mau apa
>oke, …….., betul? ……….. dari mana?
>dari Jakarta
>Oke, ……… dari Jakarta, sudah siap menjawab pertanyaan dari saya?
>Siap
>Baiklah, pertanyaan pertama dari saya, “Apakah ibukota dari Australia?” Sekali lagi, “Apakah nama ibukota dari Australia?”.
>mmm…
>Yak, waktu Anda hanya sepuluh detik dari sekarang!
>mm.. mmm… mm…
>Ayo, dijawab!
>Sydney!
>Sydney?
>……….., apa tadi kamu baca ensiklopedi?
>hah? *kebingungan sama pertanyaannya*
>Kamu tadi baca ensiklopedi?
>Eh.. Nggak.
>Kalau begitu harusnya tadi kamu baca, karena jawaban sebenarnya adalah Canberra! Jadi jawaban kamu SALAH!
>Oh.. Salah ya..
>Iya, maaf ya ……………, mungkin bisa coba lain waktu.

>Yak baik, tadi …….. kurang beruntung! Bagi Anda yang merasa berpengetahuan luas, silakan coba peruntungan Anda dengan menelepon 08000000000. Pokoknya 08 0 9 kali. Baik, tampaknya sekarang sudah ada yang masuk, mari kita angkat penelepon berikutnya..

>Halo?
>Halo?
>Yak di sini kuis …………. . Siapa ini?
>………………… .
>……………… dari mana?
>Dari Bandung!
>Oh dari Bandung! Kumaha’ kabarna teh?
>Bae..
>Oke, ……………. sudah siap?
>Sudah.
>Baik, waktu Anda 10 detik sejak pertanyaan dilontarkan. Sekarang dengarkan baik-baik pertanyaannya. Ada berapa propinsi di Indonesia?
>Emmm.. 27? *nada ragu2*
>Berapa, ……..?
>27.
>Wah, …………. sekarang sudah tahun berapa sih?
>Hah? dua ribu.. enam
>Iya benar, 2006, dan sayang sekali ……………! Di tahun 2006 ini Indonesia sudah memiliki 32 propinsi! Jadi maaf, Anda belum beruntung tampaknya.
>Oh.. Ya udah, ga-pa-pa…
>Iya, terima kasih, …………… !

>Wah, tampaknya banyak pemirsa kita yang pengetahuannya umum kurang! Makanya saya sarankan, banyak-banyaklah membaca buku! Dan karena kita masih ada sisa waktu, mari kita buka lagi telepon kita. Bagi Anda yang merasa berwawasan luas dan ingin memenangkan Rp 250.000,00 dan kesempatan memenangkan nokia N90, silakan angkat telepon Anda dan putar 08000000000. Singkatnya, 08 0 9 kali. Sekali lagi, 08 0 9 kali untuk memenangkan 250rb rupiah dan kesempatan mendapatkan nokia N90! Yak, tampaknya sudah ada penelepon yang masuk!

>Halo?
>Yak, siapa ini?
>…………….
>…………. dari mana?
>dari Jakarta.
>Oke, ………….. dari Jakarta. Sejauh ini Anda adalah penelepon ketiga. Apakah >Anda yang akan jadi beruntung kali ini?
>Yah, insya allah.
>Oke. Sudah siap ………… ?
>Sudah.
>Baik, dengar baik-baik pertanyaan saya, waktu Anda maksimal hanya 10 detik dari pembacaan pertanyaan. Cukup jawab 1 pertanyaan untuk mendapat 250rb!
>Oke.
>Baik, ini pertanyaan saya. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY adalah presiden Indonesia keberapa? Waktu Anda 10 detik!
>Mmm.. Mmm.. *mikir bentar* ke-6!
>Keberapa, ………………. ?
>Ke-6.
>Anda yakin?
>Mmm.. Iya, yakin!
>Benar, yakin?
>Iya.
>Oke, selamat …………… ! jawaban Anda benar! Anda mendapatkan Rp 250.000,00 dari kami, dipotong pajak.
>Wah,,, terima kasih!
>Selamat ……………

>Baik pemirsa, demikianlah kuis singkat kita ……………………. . Ingat pemirsa, banyak-banyaklah membaca buku. Seperti kata orang, buku adalah jendela dunia! Dan juga bisa memberi Anda kesempatan untuk mendapatkan Rp 250.000,00 dan, kalau beruntung lagi, sebuah ponsel Nokia N90! Baiklah pemirsa, sampai jumpa lagi pada waktu yang sama keesokan hari, masih bersama saya Sylvia dalam ……………. !

Eh iya, nama kuisnya “Sekilas Kuis”. Makasih bwt indra si pengangguran yang ngasih ide.. huahuahauhau..

Emm, apa? Hasil ujian ini? Hehe.
Guru Bahasa Indonesia gw > (sambil ngakak) gokil nih! Gokil banget!

Tauk dah maksudnya apa. Hehe.

Bukubukuku

Saya lagi sutrisno a.k.a stres. Bukan, bukan karena pelajaran di sekolah. Itu mah dah makanan sehari-hari.
Saya sutrisno banget nih ngeliat buku-buku saya.
Ngga cuma buku-buku. Semua koleksi literatur saya. Majalah yang ajegile banyak bener. Komik-komik yang sampulnya udah pada lusuh semua. Koleksi Intisari dari taon entah kapan. Novel-novel teenlit yang kebanyakan bikin saya nyesel abis beli. Buku-buku cerita anak bergambar koleksi dari jaman TK. Dan masih banyak yang laennya.
Yang membuat saya sutrisno kliyeng-kliyeng adalah JUMLAHNYA ITU LOH. Banyak banget. Dan masalahnya, tempat saya terbatas. Alhasil koleksi literatur bukti kegilaan saya membaca sejak TK (gw dah bisa baca sejak umur 2 taon, kt nyokap gw) itu ngga bisa tersusun rapi layaknya di perpustakaan.
Padahal di rumah ini saya punya perpustakaan. Lengkap sama raknya. Tapi sayang sayang si patokaan, perpus ini merangkap jadi gudang. Alhasil, berantakan. Belon lagi raknya lumayan tinggi. Jadi ade2 saya klo ngambil buku di rak-rak atas, (yang unfortunately, adalah rak untuk komik) mereka males balikin ke tempat asal soalnya ga nyampe. Alhasil mereka taroh begitu aja sembarangan. Beberapa hari lalu baru terjadi insiden di perpustakaan saya ini. Sebegitu banyaknya tumpukan buku di sini, tiba-tiba.. RUBUH! Ya ampun. *jedok-jedokin kepala*
Anda mau liat perpustakaan merangkap gudang saya ini?

Image hosting by Photobucket

Foto diambil memakai kamera VGA Nokia 3660. Protes akan keburaman dan ketidakjelasan foto TIDAK AKAN diterima.

Beginilah saudara-saudara, penampakan perpustakaanku yang malang. Anda bisa melihat siluet buku Harry Potter 6 (and The Half-Blood Prince) edisi Bahasa Inggris di rak kedua? Eh ya ampun. Kok dia di situ ya? *kabur dulu menyelamatkan*

Nah, saudara-saudara, sebenarnya koleksi bahan bacaan di rumah saya tidak hanya ada di perpustakaan. Di rumah saya, Anda bisa baca di manapun. Literally. Everywhere. Mau sambil duduk anteng di atas kloset juga bisa. Jadi di manakah letak buku-buku saya yang lain?
Buku-buku pelajaran saya tentunya ada di meja belajar yang sama sekali tidak pernah dipakai belajar. *sigh*
Inilah penampakannya..

Image hosting by Photobucket

Berantakan amat. *malu sendiri* Di baris kedua dari kiri, kalau Anda melihat buku tebal warna merah-biru menyembul, itu adalah Webster Dictionary and Thesaurus. So far, buku terbesar yang pernah saya punya. Kalo soal barang-barang sekolah, yang lebih bikin saya sutrisno adalah kertas. Buanyak ajeh kertasnya. Liat aja meja belajar saya berhiaskan si putih itu di mana-mana. Argh.

Satu lagi tempat bahan bacaan saya berada. Yang ini sih wajib ada supaya saya punya obat insomnia. Yak, Anda benar saudara-saudara, adanya di kamar saya. Ditaroh di sebelah hi-fi, di atas rak susun tiga.Tadinya rak ini mau dipake buat taroh tempat CD yang diputer di hi-fi, tapi belon lagi tempat CD dibeli, raknya udah penuh duluan. Beginilah.

Image hosting by Photobucket

Duh. Benar-benar bukan cara menaruh buku yang baik. Liat aja komik saya jadi pada ga jelas gitu posisinya. Di tingkat 2 ada majalah-majalah. Cosmogirl, Seventeen, Spice, Cita Cinta, Femina, sampai FHM aja ada. *baru nyadar bacaan saya banyak bener* Di sini tempatnya majalah-majalah yang saya dapet gratisan pas lomba, apalagi pas Binus E-com ama NEO BiNus. Langsung banyak koleksi majalah saya. Hahahaha. Masa 3 hari (apa 4 hari gitu) lomba, dapet majalahnya sama mulu? Alhasil saya bagi-bagiin ke fakir miskin…. Eeehh maksudnya ke sepupu dan teman-teman saya..

Jadi kawan-kawan sekalian, intinya, saya sutris benjed ngeliat koleksi buku saya yang tambah bleberan ke mana-mana. Taroh di mana boookkk?? Penuh, tempeeee….!! *tiba-tiba ganti gaya nulis*

Gimandang ya? Mau tambah rak buku, dah ga ada tempat. Masa buku-buku gw mao dikiloin? Bisa masuk rumah sakit jiwa gw nantinya. Tapi kykna semua majalah mendingan dikiloin aja kali ya? Bobo, Cosmogirl, Gadis, MTV Trax, Seventeen, … ,… , … ,… . Wah tapi jangan! Kali2 bbrp taon lagi ada yang mao beli… Saya jual lewat e-bay! Eh, apa itu namanya e-bay versi Indonesia? Yello ya? Apalah namanya! Waaaaah bisa-bisa sepuluh taon lagi harganya mahal! Lumayan tuh buat modal usaha! Heheehehheehe.

Eh, tapi kalo koleksi saya yang ini ga bakalan saya jual. Ga bakalan saya otak-atik deh.

Image hosting by PhotobucketImage hosting by PhotobucketImage hosting by Photobucket

Hehehehehe. Ini koleksi piala saya. Yang tinggi-tinggi itu Spelling Bee (lengkap dengan nametagnya loohh), yang tiga berjejer itu piano.

Oyah ngomong2 koleksi, saya lagi berpikir bwt ngoleksi barang.
Bukan perangko, kertas kado, buku (udah kebanyakan boook), boneka, ato apalah.
Saya lagi pengen ngoleksi karcis parkir.
Abis karcis parkir pada lucu-lucu sih. Warna-warni gitu. apalagi karcis parkir mall. Lagian kan bisa buat pamer di kemudian hari, “Nih dulu pas gw muda gw dah keliling mall se-Jakarta loh. Neh loh buktinya…”
Asik juga kan? Huahuahuhaua. Sebenernya sih waktu itu dah pengen mulai. Udah mulai ngumpulin. Malahan saya udah dapet karcis parkir Mal Artha Gading yang warna-warni cantik itu sama sebuah karcis parkir yang dijamin langka : karcis parkir gratis di Joseph Wibowo Center (a.k.a Binus IUP building). Hehehe.Tapi entah ke mana semua tuh koleksi baru saya. Huhu.
Baru mau mulai lagi neh. Hehehehehheehhe.

Duh. Dahan dulu ah. Mau tiduran di kamar ber-AC.
Jakarta is so damn HOT!!!!!!!!!!

Abang,,,

Abang,
Neng kangen.
Padahal Neng dah menghindar. Neng pikir, Neng cuma terobsesi. Ato some kind like that. Abang terlalu jauh. Bukan cuma masalah jarak literally. Tapi rasanya, emang Abang jauh.
Neng pikir, Neng harus get real. Neng ga nyapa Abang kalo muncul di msn. Tapi Neng pernah nyoba. And you weren’t there. Dan rasanya sekarang Neng males nyoba lagi.
I mean, I said it to myself, get a life, Sylv!

Abang,
untung di sini ada yang bisa gantiin Abang. Tapi sekarang dia pun jauh Bang.. Kenapa ya Neng selalu terlibat sama yang jauh-jauh? Ada juga satu lagi yang supersibuk “gangguin” Neng. Neng sih ga masalah, coz orangnya juga fun-fun aja.

Abang,
Neng pikir, cukup sampai situ aja. Biarlah Abang cuma jadi seseorang yang pernah Neng kenal. Seseorang yang ninggalin trace berarti. Tapi ya udah itu aja. Ga usah diperpanjang.
Tapi kayaknya Neng salah Bang..
Neng buka friendsternya Abang barusan. Neng liat-liat foto Abang. Tanpa sadar, Neng nangis. Ternyata Neng bener-bener kangen Abang…
Ato ga tau deh. Neng ga ngerti kenapa.

Abang,
Neng pengen ada Abang kayak dulu. Dimulai dari sms-sms geje kayak “Abaaaaaanggg….” ato “Duh duh duh. BT”. Abang bisa bales, bisa ngga. Tergantung hoki.
Neng ga tau deh waktu itu Abang sebel apa ga. Ato mungkin dulu Abang ga bales sms neng karena sangaaaat ga penting?

Abang,
Neng ga ngerti. Neng ga yakin.
Apa semua kedekatan kita dulu cuma bayangan? Apa itu semua not real?
Kok rasanya aneh…. Rasanya ada sesuatu yang sangaaaaat aneh. Ada sesuatu yang harusnya not there. Tapi apa? Neng ga ngerti…
Kenapa semuanya tiba-tiba feels wrong?

Abang,
Neng jadi bingung.
Apakah selama ini Neng benar-benar hidup dalam kenyataan?

Abang,
Neng kangen…..
Banyak banget hal di sini yang bisa ngingetin Neng tentang Abang. Dari lagu-lagu (Don’t Lie by B.E.P, You’re Beautiful by James Blunt, etc), ngeliatin wisma Aldiron, ngeliat Fish n’ Co., ngeliat brosur passfour, dll dll.

Abang,
Neng bingung, kenapa Neng nangis tersedu-sedu gini.
Padahal Neng pikir, that wasn’t real…
Neng pikir, itu cuma salah satu kegilaan Neng yang buta gara2 feeling yang ga pasti.

Abang,
Abang baca ga ya………………..

Jaman penjajahan Belanda… hmmm

Ga tau neh, lagi pengen aja ngomongin soal penjajahan Belanda jaman dulu.
Kepikiran gara2 tadi pagi waktu gw ke makam kucong gw, bokap gw ngomongin ini. (Di mobil ngomongin ginian?? Iyalah, bokap gw gitu lhhoooo)
Jadi bokap gw bilang, kok kayaknya indonesia lebih maju waktu masih dijajah. Specifically Bangka, yang notabene adalah kampung halaman bokap gw.
Bayangkan sodara2, 100 taon lalu di Bangka, sudah ada TREM. T R E M. Iya, trem. Kereta listrik itu. Yang jalan di atas rel. 100 taon lalu loh. Dan sekarang di Jakarta monorel aja ga jadi2. (kenapa mas pemda?? ga ada dana ya?? Dananya dikorup mulu siiihh..)
Trus dulu di Bangka, penambangan timah (sumber mata pencaharian paling utama di Bangka) itu udah dilakukan dengan alat elektrik. Dan untuk itu, Belanda dah bikin pembangkit listrik. Taon 1910, kalo gw ga salah inget bokap gw ngomong. Whoa. Pembangkit listrik tenaga uap lho.
Dan begonya laknatnya biadabnya, tu pembangkit listrik DIRUBUHIN. Ampe rata ama tanah. Terus badan-badannya dicolongin trus dijualin. Astaga. Dan diganti pake pembangkit listrik tenaga batu bara. Busyet.
Mau tau kehebatan Belanda yang laen? Kalian2 anak jakarta yang pernah ke Bandung lewat tol cipularang, pernah liat ga sebuah rel kereta api yang menjulang tinggi gitu? Rel itu dah dibikin hampir 100 taon lalu juga. Dan masih stand strong sampe sekarang. Bayangkan betapa hebat konstruksinya. Sedangkan, tau sendiri, waktu itu ada kan menara stasiun TV yang rubuh cuma gara2 angin??
Sigh.
Gw juga bingung, dijajah sekian lama sama sebuah bangsa yang segitu pinternya kok ga membuat bangsa ini pinter sih? Gw bingung dateng dari mana tuh semua budaya jelek. Budaya-budaya jelek ini contohnya : korupsi (ga usah dikomentarin lagi deh), males kerja (wuih orang indo bukannya paling seneng kalo istirahat kerja? Istirahat terus ga balik2 ke kantor. Hihi), berpikir pendek (tau cerita orang Indo yang berdagang terus sekalinya dapet untung langsung traktir sana-sini dan akhirnya bangkrut?). Kok kita sama sekali ga dapet budaya orang Belanda sih? Kenapa?
3.5 abad dijajah dan di budaya kita sama sekali ga ketinggalan jejak mereka. Gw sebagai orang Indo ngga ngerti musti merasa hebat ato bego. Hebat karena akar budaya kita kuat, ato bego karena kita sama sekali ga menyerap yang bagus2?
(btw, jangan sampe deh kebiasaan orang Belanda yang males mandi itu jadi budaya Indonesia. Ihh amit-amit dah. Panaaass!)
Belanda sekarang dah jadi negara kaya dan maju. Modern dan berpikiran luas. Semuanya gara-gara kita. Okay, ga secara langsung, tapi jelas kita punya peranan dalam membentuk mereka (belanda) jadi seperti itu. Dari mana mereka dapet duit dulu2nya kalo bukan karena VOC yang menguras abis sumber daya alam Indo? (nah, again. VOC yang terlalu kejam apa kita terlalu bego?)
Indonesia tuh sebenernya dah punya modal buat jadi negara maju. Sumber daya alamnya itu looohhhh… Apa sih yang ga ada di Indonesia? (okay, ga ada salju but that doesn’t count)
Apa yang kurang hayo dari Indonesia?
Sumber daya manusianya. Percuma punya bahan tapi ga bisa ngolah. Liatlah hasilnya di Indonesia sekarang ini. Ekspor bahan mentah, lalu impor barang jadi yang harganya bisa puluhan kali lipat dari bahan mentah. Padahal bahan mentahnya dari kita!
Inilah hasil dari sistem pendidikan Indonesia yang udah ratusan kali gua cerca sejak gw masih SD. (Dari SD gw dah tau sistem Indonesia ga bener bow. Masa kerjaannya ngapal mulu.)
Kita butuh anak-anak pinter dari Indonesia.
Ironisnya, anak-anak pinter Indonesia juga pada disabet ama orang-orang luar negeri. Jarang ada yang balik ke sini. (kecuali Yohanes Surya yang sangat nasionalis itu. Untung ada dia!)
Wajar sih kalo mereka ga balik. Coba pikir nih, karena mereka pinter, mereka ditawarin kesempatan sekolah di luar negeri. Pasti disabet dong. Trus kalo dah sekolah dan lulus, mereka yang super pinter bisa ditawarin kerja di sono, dengan posisi yang bagus dan gaji yang bagus. Siapa yang ngga mau? Sebodo amat deh kalo musti kerja 3 taon ama pemerintah negeri itu kayak aturannya si S’pore. Toh abis itu mereka punya kesempatan lebih luas buat merentangkan sayap (halah!), fasilitas untuk intelegensia mereka lebih ada, dan tentu.. Duitnya bow…
Emang bener sih kalo orang bilang ngapain balik-balik ke Indo kalo dah sekolah di luar negeri.
Kalo gw dapet di luar negeri nanti (doain ye!), gw juga ga bakalan balik ke sini.
Kenapa?
Ya….. Ngapain?