resensi – Lingkar Tanah Lingkar Air

*****okay, like i said before, i’m gonna put the official book review here. And please don’t copy. =) It was really exhausting to make this, you know..*****

Terjebak dalam Lingkaran Nasib
Kala hidup tiada lagi menawarkan pilihan…


Judul buku : Lingkar Tanah Lingkar Air
Pengarang : Ahmad Tohari
Editor : Retno Suffatni
Penerbit : Pustaka Sastra LKiS Yogyakarta
Tahun terbit : 2003

Kata orang, hidup memiliki banyak pilihan. Tapi sebuah kata maut bernama perang bisa menelurkan arti lain : tiada pilihan tersisa. Pada waktu itulah anak manusia harus rela melakukan sesuatu yang wajib meski tidak dimau…..
Itulah yang dialami Amid, si penutur. Mimpi-mimpi ia punyai ; menjalani hidup biasa, membangun keluarga layaknya orang biasa, dan mati layaknya orang biasa. Tapi memanglah sebuah realita tidak peduli akan mimpi dan harapan.
Petualangan Amid dimulai saat seorang ulama, Hadratus Syaikh, mengeluarkan fatwa bahwa wajib hukumnya bagi semua orang Islam untuk berperang melawan Belanda untuk mempertahankan negeri sendiri yang baru merdeka. Siapa yang mati dalam peperangan melawan tentara Belanda yang kafir adalah syahid, begitu katanya. Kiai Ngumar, kiai yang sangat Amid hormati, memanggil Amid beserta teman-temannya dan menyuruh mereka semua bersiap untuk berperang yang cepat atau lambat akan sampai ke desa mereka.
Amid dan teman-temannya diperkerjakan untuk membantu Tentara Republik. Tapi Kiram, sobat Amid yang ulet dan cekatan meski sering direndahkan karena buta huruf, tidak puas hanya dengan membantu. Kiram ingin terlibat. Akhirnya ia beserta teman-teman yang lain, dan tak ketinggalan Amid, membentuk suatu barisan sendiri, Hizbullah. Barisan yang mandiri dan tidak terikat pada Tentara Republik. Barisan yang berdasarkan keikhlasan dan sukarela. Barisan yang akan menjadi tonggak awal hidup baru mereka : hidup tanpa pilihan.
Hidup mereka terguncang dan terbalik tiba-tiba di atas kereta menuju Purworejo. Kereta yang akan mengantar mereka untuk bergabung dengan Tentara Republik. Kenyataan berkata lain. Mereka ditembaki, tanpa kecuali. Pilihan mereka hanya ada dua : lari untuk hidup atau tinggal untuk mati. Naluri mereka mengambil tempat logika. Lari!
Akhirnya Amid dan kawan-kawan terpaksa menjalani hidup sebagai wong alasan (orang hutan). Hidup berpindah-pindah agar keadaan mereka tidak diketahui. Merampok desa bila perlu untuk mendapat barang kebutuhan. Makan apa saja yang tersedia di hutan. Bahkan istri Amid harus melahirkan di hutan. Mereka ada tapi harus bersikap seolah-olah mereka tak ada. Mereka tak terlihat tapi terus dicari-cari dan dikejar-kejar. Tiada pilihan lain selain terus bertahan. Apalagi mereka menemukan fakta pahit bahwa mereka tak bisa kembali lagi ke tengah-tengah masyarakat yang terlanjur diliputi rasa benci pada mereka, yang sebenarnya bukan salah mereka. Mereka terjebak dalam lingkaran nasib…..
Akankah mereka bisa keluar?

Novel yang sarat nuansa militeristik ini mencapai dua hal dengan gemilang : memotret suasana perang dengan jujur tanpa pretensi dan memaparkan pergolakan batin para tokoh dengan detil tanpa harus bertele-tele. Ahmad Tohari, si penulis berkaliber internasional ini mengajak kita masuk ke dunia peperangan dan membuat kita mengerti makna mendalam dari perang tanpa menjadi menggurui. Ahmad memiliki kemampuan yang mungkin tidak semua penulis punyai : menggunakan bahasa-bahasa ringan yang mudah dimengerti tanpa kehilangan keindahan bahasa. Tetap sastra, namun tidak pop. Tidak berat, namun juga tidak terlalu ringan. Komposisi yang pas untuk membuat sebuah bacaan yang menyenangkan.
Berbagai pendeskripsian dilakukan si penulis trilogi Ronggeng Dukuh Paruk ini dengan sangat detil tanpa terkesan berlebihan. Simaklah “Aku mulai melihat kupu-kupu dan capung. … Ada perkutut dan derkuku bertengger pada cabang pohon wangkal. Ada sepasang bayan hinggap dekat sarang mereka dalam lubang kayu kapuk. …. Aku melihat seekor dadali tiba-tiba menukik dari langit. Tubuhnya yang gagah melesat ke bawah dan sekejap hilang terhalang pepohonan. …” (halaman 113). Suasana yang mencekam dan menegangkan saat perang juga terasa nyata karena penggambaran yang detil.
Biarpun berlatar belakang perang, novel ini tidak mengangkat cerita heroik. Tidak ada cerita orang-orang biasa yang tiba-tiba menjadi pahlawan akibat perbuatan mereka. Atau cerita tentang berbagai kehebatan seseorang di medan perang. Sebaliknya, di sini ditampilkan hal-hal yang mungkin belum terungkap sebelumnya. Hal-hal yang cenderung lebih gelap. Kegundahan dan kecemasan orang-orang yang terlibat perang. Perasaan sakit hati mereka saat dicap sebagai musuh negara yang tadinya mereka pertahankan. Kejenuhan dan kebosanan mereka menjalani hidup kucing-kucingan terus-terusan tanpa kepastian ke mana semua perjuangan itu akan bermuara. Dan tak lupa keputusasaan dan kekecewaan.
Cerita dalam novel ini kebanyakan dibangun oleh flashback-flashback yang juga sangat detil. Sayangnya terkadang terasa terlalu detil dan kadang bertumpuk sehingga dapat menimbulkan kebingungan tentang latar waktu : yang mana masa lalu, yang mana masa kini? Hal lain yang dapat menimbulkan kebingungan adalah adanya beberapa kata-kata dalam Bahasa Arab tanpa penjelasan. Tapi terlepas dari itu semua, novel ini tetap akan cocok untuk menambah koleksi buku sastra Anda dan menambah wawasan Anda tentang sastra Indonesia. Novel ini mungkin akan agak sulit dimengerti bagi para muda usia, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa para muda-mudi juga bisa menikmatinya. Nikmatilah dalam waktu senggang Anda, dan larutlah dalamnya…

Lingkar Tanah Lingkar Air-the cover

**pjg amat ya????**

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

2 Responses to “resensi – Lingkar Tanah Lingkar Air”

  1. FAJAR ALI INDONESIA Windows XP Mozilla Firefox 3.0.1   on June 7th, 2009

    saya tertarik dengan novel “lingkar tanah lingkar air”, tapi saya bingung, mencoba mencari bukunya ga ada, dimana ya, saya bisa membelinya?

    Reply

  2. Sylvia Giacinta SINGAPORE Mac OS X Safari 525.18   on June 8th, 2009

    Fajar Ali,
    hmmmm saya dulu sih ngga beli di toko buku, saya dikasih langsung oleh gurunya (karena waktu itu tugas wajib). Mungkin bisa tanya langsung ke penerbitnya?

    Reply


Leave a Reply

CommentLuv Enabled