Archive for February 24th, 2006

juz a post when i juz got back from school…

duuuuuuh.
gw bingung berat neh.
Ortu gw dah setuju gw di UDB.
Tapi gw tetep mao ke s’pore.
Nyokap gw dah bilang, kalo misalnya gw dapet di s’pore, ya udah UDBnya nanti dilepas aja.
Tapi kan sayang banget,,, 16 juta…. T_T apa segitu mahal harga yang harus gw bayar bwt ‘mengamankan’ pijakan gw di sini? Segitu mahalkah harga keegoisan gw yang pengecut ini… Iya, pengecut. Dan pesimistik. Karena gw sama sekali ga yakin bisa ke s’pore. Saingan gw banyak banget dan banyak banget yang bagus. Aduh. T_T
Tapi one thing for sure, kalo gw jadi masuk ke UDB ini, gw ga bakalan semangat nungguin hari pertama kuliah gw. Dan ujung2nya gw jadi apa? Diplomat? (gw ngambil hubungan int’l) Keliling2 dunia terus? Apa bener itu seharusnya bwt gw? Ato pekerja di UN (PBB)? Ato mungkin kerja di perusahaan internasional bwt jadi penghubung mereka? Apa bener itu?
Sumpah, ga pernah kepikiran sekalipun bwt jadi itu semua.
Gw mau daftar TOEFL hari ini. Tapi fax di rumah gw ga bisa dial ke luar negeri (kenapa ya???) Maksud gw mau gw colong fax-nya ke rumah gw yang lama, yang sambungan teleponnya bisa dial ke luar negeri. Tapi dasar gw dodol, yang namanya fax kan ada kabel listriknya. Dan kabelnya itu dipasang di belakang, entah di mana lah. Bertumpuk2 ama kabel TV, ampli, dan speaker. (karena fax gw letaknya di sebelah mereka). Jadi intinya, gw ga bisa nge-fax.
Pulang2 tiba2 nyokap gw bilangin gw bwt buka rekening di suatu bank yang ada dalam kompleks kampus UDB. Gw iyain aja. Besok ktnya kita mau pergi bwt ngeliat2 tempat kos gw. Gw iyain juga. Gw langsung jadi mikir, jadi nih gw ke Bandung? Jadi nih gw reside and remain di Bandung? Kalo gitu, semua hal yang selama ini gw lakuin bwt ke S’pore ga ada gunanya dong? Apa iya ini nasibnya gw, akhirnya musti end-up di Indonesia lagi, setelah berusaha keras bwt keluar?
Sedangkan banyak temen2 gw yang ditawarin sekolah abroad tapi mereka ga mau.
See? Gimana gw ga jadi ngiri. Apalagi bonyok gw kurang mendukung. Please remember that I still got 3 siblings…
Tuhan, tolong dong.
T_T

glossary
UDB : Universitas Di Bandung. Univ yang terkenal, terutama karena arsitekturnya. (dan jg hubungan internasionalnya sih) kampusnya gede dan adem. (ga penting yah?)

note
gw lagi ngedit resensi gw karena ternyata versi yang itu belon final. Tadi baru gw retouch lagi,, dan nantikanlah resensi baru gw ituw.. heheehheheheh

resensi – Lingkar Tanah Lingkar Air

*****okay, like i said before, i’m gonna put the official book review here. And please don’t copy. =) It was really exhausting to make this, you know..*****

Terjebak dalam Lingkaran Nasib
Kala hidup tiada lagi menawarkan pilihan…


Judul buku : Lingkar Tanah Lingkar Air
Pengarang : Ahmad Tohari
Editor : Retno Suffatni
Penerbit : Pustaka Sastra LKiS Yogyakarta
Tahun terbit : 2003

Kata orang, hidup memiliki banyak pilihan. Tapi sebuah kata maut bernama perang bisa menelurkan arti lain : tiada pilihan tersisa. Pada waktu itulah anak manusia harus rela melakukan sesuatu yang wajib meski tidak dimau…..
Itulah yang dialami Amid, si penutur. Mimpi-mimpi ia punyai ; menjalani hidup biasa, membangun keluarga layaknya orang biasa, dan mati layaknya orang biasa. Tapi memanglah sebuah realita tidak peduli akan mimpi dan harapan.
Petualangan Amid dimulai saat seorang ulama, Hadratus Syaikh, mengeluarkan fatwa bahwa wajib hukumnya bagi semua orang Islam untuk berperang melawan Belanda untuk mempertahankan negeri sendiri yang baru merdeka. Siapa yang mati dalam peperangan melawan tentara Belanda yang kafir adalah syahid, begitu katanya. Kiai Ngumar, kiai yang sangat Amid hormati, memanggil Amid beserta teman-temannya dan menyuruh mereka semua bersiap untuk berperang yang cepat atau lambat akan sampai ke desa mereka.
Amid dan teman-temannya diperkerjakan untuk membantu Tentara Republik. Tapi Kiram, sobat Amid yang ulet dan cekatan meski sering direndahkan karena buta huruf, tidak puas hanya dengan membantu. Kiram ingin terlibat. Akhirnya ia beserta teman-teman yang lain, dan tak ketinggalan Amid, membentuk suatu barisan sendiri, Hizbullah. Barisan yang mandiri dan tidak terikat pada Tentara Republik. Barisan yang berdasarkan keikhlasan dan sukarela. Barisan yang akan menjadi tonggak awal hidup baru mereka : hidup tanpa pilihan.
Hidup mereka terguncang dan terbalik tiba-tiba di atas kereta menuju Purworejo. Kereta yang akan mengantar mereka untuk bergabung dengan Tentara Republik. Kenyataan berkata lain. Mereka ditembaki, tanpa kecuali. Pilihan mereka hanya ada dua : lari untuk hidup atau tinggal untuk mati. Naluri mereka mengambil tempat logika. Lari!
Akhirnya Amid dan kawan-kawan terpaksa menjalani hidup sebagai wong alasan (orang hutan). Hidup berpindah-pindah agar keadaan mereka tidak diketahui. Merampok desa bila perlu untuk mendapat barang kebutuhan. Makan apa saja yang tersedia di hutan. Bahkan istri Amid harus melahirkan di hutan. Mereka ada tapi harus bersikap seolah-olah mereka tak ada. Mereka tak terlihat tapi terus dicari-cari dan dikejar-kejar. Tiada pilihan lain selain terus bertahan. Apalagi mereka menemukan fakta pahit bahwa mereka tak bisa kembali lagi ke tengah-tengah masyarakat yang terlanjur diliputi rasa benci pada mereka, yang sebenarnya bukan salah mereka. Mereka terjebak dalam lingkaran nasib…..
Akankah mereka bisa keluar?

Novel yang sarat nuansa militeristik ini mencapai dua hal dengan gemilang : memotret suasana perang dengan jujur tanpa pretensi dan memaparkan pergolakan batin para tokoh dengan detil tanpa harus bertele-tele. Ahmad Tohari, si penulis berkaliber internasional ini mengajak kita masuk ke dunia peperangan dan membuat kita mengerti makna mendalam dari perang tanpa menjadi menggurui. Ahmad memiliki kemampuan yang mungkin tidak semua penulis punyai : menggunakan bahasa-bahasa ringan yang mudah dimengerti tanpa kehilangan keindahan bahasa. Tetap sastra, namun tidak pop. Tidak berat, namun juga tidak terlalu ringan. Komposisi yang pas untuk membuat sebuah bacaan yang menyenangkan.
Berbagai pendeskripsian dilakukan si penulis trilogi Ronggeng Dukuh Paruk ini dengan sangat detil tanpa terkesan berlebihan. Simaklah “Aku mulai melihat kupu-kupu dan capung. … Ada perkutut dan derkuku bertengger pada cabang pohon wangkal. Ada sepasang bayan hinggap dekat sarang mereka dalam lubang kayu kapuk. …. Aku melihat seekor dadali tiba-tiba menukik dari langit. Tubuhnya yang gagah melesat ke bawah dan sekejap hilang terhalang pepohonan. …” (halaman 113). Suasana yang mencekam dan menegangkan saat perang juga terasa nyata karena penggambaran yang detil.
Biarpun berlatar belakang perang, novel ini tidak mengangkat cerita heroik. Tidak ada cerita orang-orang biasa yang tiba-tiba menjadi pahlawan akibat perbuatan mereka. Atau cerita tentang berbagai kehebatan seseorang di medan perang. Sebaliknya, di sini ditampilkan hal-hal yang mungkin belum terungkap sebelumnya. Hal-hal yang cenderung lebih gelap. Kegundahan dan kecemasan orang-orang yang terlibat perang. Perasaan sakit hati mereka saat dicap sebagai musuh negara yang tadinya mereka pertahankan. Kejenuhan dan kebosanan mereka menjalani hidup kucing-kucingan terus-terusan tanpa kepastian ke mana semua perjuangan itu akan bermuara. Dan tak lupa keputusasaan dan kekecewaan.
Cerita dalam novel ini kebanyakan dibangun oleh flashback-flashback yang juga sangat detil. Sayangnya terkadang terasa terlalu detil dan kadang bertumpuk sehingga dapat menimbulkan kebingungan tentang latar waktu : yang mana masa lalu, yang mana masa kini? Hal lain yang dapat menimbulkan kebingungan adalah adanya beberapa kata-kata dalam Bahasa Arab tanpa penjelasan. Tapi terlepas dari itu semua, novel ini tetap akan cocok untuk menambah koleksi buku sastra Anda dan menambah wawasan Anda tentang sastra Indonesia. Novel ini mungkin akan agak sulit dimengerti bagi para muda usia, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa para muda-mudi juga bisa menikmatinya. Nikmatilah dalam waktu senggang Anda, dan larutlah dalamnya…

Lingkar Tanah Lingkar Air-the cover

**pjg amat ya????**

~~intermezzo~~

*****gw nulis ini pas lagi ngetik-ngetik resensi gw. Btw, gw ga jadi nge-post resensi ga resmi gw karena resensi resmi gw dah hmpr jadi. take a look after this post kay..*****

sylvdoanx
3:31 PM Feb 23, 2006 IP 5:1
lucky you.. and i had to turn my world around juz to go to s’pore. Turning upside down. sacrificing all. n still i dun know whether it’d be worth it..

gw nulis itu di shoutbox lewi a.k.a aga setelah gw ngeliat posting dia (klik di nama dia sebelonnya bwt ngunjungin) yang nyeritain kalo nyokapnya daftarin dia di sebuah universitas Australia yang termasuk group of eight (Eight, Lewi, not nine or more) di jurusan commerce. Bwt temen2 gw yang temen2 lewi juga, pasti tau kalo dia pengen jadi diplomat. The major for it is none other than international relations. (the major i took in UDB, f.y.i)
Gw ngerti kalo lewi ga mau. I’ve been there. And trust me, we can’t do things that we don’t wanna do. Can we? Oh yes, I know we can. But not well. We always strive for the very best rite? We can’t do our best if we’re forced. Or if we do the things we don’t like. The things we don’t wanna do.
Tapi, kadang kita ngerasain what we call with unfairness, rite?
Call me hyperbolic, for saying that thing in lewi’s shoutbox. Call me envious.
I AM envious.
Gimana gw ga ngiri? Dengan segitu gampangnya nyokapnya dia daftarin dia. Dan kalo (kalo loh ya) dia nanti jadi, dia ga perlu ngurusin apa2 lagi.
Lah gw?
Mau daftar aja musti pake perjuangan. Gw ga boong kalo gw bilang ‘sacrificing all’. I wasn’t exaggerating… Mau contoh? Oh, jangan contoh. Bukti gamblang.
SAT gw. Gw bener2 upside down bwt itu. Rayu2 bokap gw supaya diijinin ikut preparationnya. Berjuang keras melawan kantuk mendera waktu terjebak di kelas yang super bikin bete. (gimana ngga, ngeliatin soal writing+reading mulu yang susah amit2! Dan tambah ngantuk aje karena soal matnya gampang2 banget… Ahahaha. Eh, tapi waktu itu gw dapet gebetan loh. XP) Belon lagi waktu mau tes. I paid the test myself. Dengan duit yang gw cari dengan kekuatan gw sendiri. Bukan dari tabungan. Bukan (lagi-lagi) minta orangtua. Duit yang gw bayarin bwt ikut tes itu fully hasil kerja keras gw. Kerja keras apa? Okay, bukan kerja resmi. By competing in a spelling bee competition. (Jesse surely knows this.. Heheheh) N yet it wasn’t easy. Struggling hard to get into the final… Even harder when I was (finally and luckily) in final.
and puh-leez, btw, i’m not being showy here. That’s the truth.
untuk ngelengkapin application gw di SMU, gw musti ke sana-ke sini bwt bikin terjemahan dokumen gw. (karena jelas, semua dokumen resmi gw dalam Bahasa Indonesia) Byr biaya pendaftaran, urus sendiri. Ke bank sendiri. Ngirimin sendiri. Bayar sendiri.
bwt TOEFL pun gw sebenernya struggled bwt bayar sendiri. Yah, emang sih ini akhirnya juga dibayarin…
Gimana gw ga ngiri… Kenapa ada orang yang begitu aja dikasih kesempatan di depan mukanya dan dia ga mau, sedangkan gw harus mati-matian hanya demi sebuah kesempatan? (dear Lewi, if you’re reading this, please be acknowledged that I won’t convince you to go abroad instead. I know how you feel…)
I turned myself around. Upside down. All the way round.
And, like I said, I don’t even know whether it’d be worth it…
Would it?

Hope so…………….

Kalo akhirnya gw ga dapet juga kesempatan itu, anggaplah gw cuma satu dari sekian banyak orang sial di dunia.