***Note***
as the warming-up, gw post dulu resensi gw waktu kelas 2 SMA. Biasalah, tugas sekolah. And sorry I haven’t got the cover snapshot of this book because i couldn’t find it anywhere… Y’all are very welcome to give comments… In fact, I’m waiting for it. And wait for my next book review. The title : Lingkar Tanah Lingkar Air
Cinta, Haruskah Selalu Indah?
Terkadang menodai cinta adalah pilihan…
Judul buku : Kau Nodai Cintaku
Jenis : Novel
Penulis : Haris del Hakim
Editor : Shivaelhany
Penerbit : Manyar Media
Marketing : Cupid Distributor
Tebal buku : 209 halaman
Ukuran : 21,2 cm x 13, 8 cm
Harga : Rp. 27.500, 00
Wibi dan Silvia, dua insan muda yang saling mencintai terpaksa berpisah karena ayah Silvia yang seorang kyai tidak sreg dengan Wibi yang hanya berprofesi sebagai penulis honorer dan berasal dari keluarga petani biasa. Akhirnya Silvia memutuskan untuk melanjutkan studi di Amerika sedangkan Wibi menjadi seorang kepala sekolah yang disegani di desa kelahiran Tamtomo, sahabatnya, tak jauh dari desa tempat tinggal Silvia. Beberapa tahun kemudian, Silvia pun kembali ke tanah kelahirannya dan meminta Wibi melamarnya, padahal saat itu sudah ada Setyawati, gadis hitam manis sesama guru yang mengisi hari-hari Wibi. Di saat ia harus memilih, rasa kesendirian dan kesepian Wibi yang dia alami sejak ditolak oleh keluarga kekasihnya, membuatnya memilih untuk menodai cinta…
Sebuah novel yang kaya. Haris del Hakim tak bisa dipungkiri adalah penulis baru yang berbakat. Novel ini tidak melulu bicara tentang cinta yang klise dan membosankan, tapi novel ini juga sarat dengan kritik sosial dan pesan-pesan penuh makna. Hakim menceritakan detik demi detik ceritanya dengan gaya bahasa deskriptif, cenderung puitis dan filosofis, namun tetap luwes. Penggambaran kejadian, latar tempat, latar waktu juga dilakukan dengan sangat detil, membuat kita bisa membayangkan apa yang ia bayangkan.
Selain kisah cinta segitiga, di novel ini banyak terdapat kritik sosial. Contohnya kepada para kiai yang dianggap munafik. “Kiai hanya penampilan dengan sorban di tengah kerumunan…” (Hal 49) Atau ke orang-orang yang ‘terpinggirkan’ dalam sejarah. “Apakah para pemilik nisan ini tidak berbuat apa-apa sehingga mereka tidak layak dikenal, sekadar di samping nama Sunan Drajat?” (hal 46). Selain itu ada juga kritik yang menyentil kebiasaan masyarakat yang menganggap di umur sekian sudah harus menikah, padahal menikah adalah hak masing-masing individu. Sebagai penulis, Hakim mempunyai banyak buah pikiran cemerlang yang ditatarkan secara rapi dalam novel ini.
Sayangnya, untuk novel yang berlatar belakang Jawa ini (kebanyakan Jawa Tengah dan Jawa Timur), referensi arti-arti kata dalam bahasa Jawa bisa dibilang sangat kurang. Bagi pembaca yang tidak mengerti bahasa Jawa, tentu hal ini merupakan hambatan. Selain itu akhir cerita cenderung tidak menggigit dan mengecewakan sehingga menjadi antiklimaks di dalam buku ini. Sayang sekali, padahal cerita awalnya sudah terbangun dengan kuat.
Dari kosakata dan gaya bahasa yang digunakan, tampaknya buku ini cenderung ditujukan untuk orang-orang dewasa, atau mungkin minimal mahasiswa. Buku ini sepertinya cocok untuk menemani para mahasiswa ‘kos-kosan’ yang sedang kesepian dan tidak ada kerjaan. Kata-kata bijak di dalamnya bisa memberikan inspirasi yang bagus. Tapi orang-orang yang sudah berumur (sudah menjadi orang tua) pun tak tabu membaca buku ini untuk sekedar hiburan.
*haha,, corny ngga sih????*



















Recent Comments